Part 5
Istana Air Taman Sari
WaterCastle
Dua ratus tahun silam, Taman Sari yang berarti “taman yang
indah” adalah sebuah tempat rekreasi dan kolam pemandian atau disebut pula
pesanggrahan bagi Sultan Yogyakarta beserta seluruh kerabat istana.
Mengutip dari Babad Mangkubumi, Taman Sari ini dibangun oleh
Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi pada tahun 1683 (silsilah
kerajaan Mataram) menurut penanggalan tahun Jawa atau tahun 1757 Masehi. Taman
itu berdiri, tepat bersamaan dengan berdirinya Keraton Ngayogyakarta
Hadiningrat (sejarah kerajaan Mataram).
Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti
(1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwono sekian lama terlibat dalam
persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan
yang dapat dipergunakan untuk menenteramkan hati, istirahat, dan berekreasi.
Meskipun demikian, Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/ benteng
untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan
untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Pesanggrahan Taman Sari juga dilengkapi
dengan masjid, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.
Kompleks Taman Sari yang menempati lokasi seluas lebih dari
12 hektare berarsitektur dan relief perpaduan antara gaya arsitektur Hindu,
Budha, Islam, Eropa, dan Cina itu selesai dibangun pada tahun 1765 Masehi.
Untuk memberi makna pada setiap bangunan, Sri Sultan Hamengku Buwono I waktu
itu memberi nama masing-masing bangunan yakni Keraton Pulo Kenanga, Masjid
Taman Sari dan Pulo Penambung yang terapung di atas air, kolam pemandian dan
gedung tempat tidur Sri Sultan dan Permaisuri.
Dalam Babad Memana dan serat rerenggan, pengadaan bahan
bangunan pembangunan Tamansari dipimpin Rangga Prawiro Sentiko, Bupati Madiun.
Sedang pengawas pelaksanaan pembangunan dilakukan Tumenggung Mangundipuro.
Dalam catatan sejarah, pada tahun 1812 beberapa bangunan
hancur akibat serangan Inggris dan tahun 1867 terjadi gempa bumi yang juga
menghancurkan beberapa bangunan di kompleks Taman Sari. Namun saat ini
keagungan masa lampau itu sirna oleh menjamurnya rumah-rumah penduduk di
sekitarnya, kompleks Taman Sari sesungguhnya menjadi tak jelas.
Bangunan itu, memiliki nama masing-masing sesuai dengan
fungsi atau kegunaan, seperti Gapura Agung adalah pintu masuk menuju kompleks
Taman Sari yang dilengkapi dengan empat gedung kembar yang berfungsi sebagai
pos penjagaan dan disebut pecaosan serta ada tempat ganti pakaian abdi dalem
yang sehabis menjalankan tugas penjagaan yang disebut paseban.
Kolam pemandian terletak di sebelah selatan masjid membujur
dari utara ke selatan terdiri dari kolam pemandian yang disebut Umbul Kawitan,
Umbul Pamuncar, Umbul Panguras.
Umbul Panguras adalah kolam pemandian khusus bagi Sri
Sultan, sedangkan Umbul Pamuncar adalah kolam pemandian yang disediakan bagi
permaisuri, dan Umbul Kawitan untuk putra-putrinya Raja.
Bangunan lain Gedung Cemeti, Taman Ledoksari merupakan
tempat peraduan dan tempat yang sangat pribadi untuk raja. Dalam sebuah rumor,
menyebutkan, Taman Sari memiliki terowongan yang ujungnya tembus ke pantai
selatan yang disebut Parangkusuma dan berfungsi sebagai sarana persiapan
penyelamatan jika terjadi peperangan.
Satu bangunan yang menyiratkan perpaduan arsitektur Portugis
dan Jawa adalah Sumur Gumuling, Bentuknya menyerupai gedung teater melingkar
dan tepat di tengah bangunan, terdapat telaga buatan (Segaran) terdapat puing
bangunan besar dan luas.
Di salah satu sisinya terdapat tangga setapak yang gelap
menjuju lorong bawah tanah Taman Sari yaitu Sumur Gumuling. Di ujung lorong
terus menuju atrium (bilik) bundar yang terbuka bagian atasnya. Di tengah dasar
atrium ada kolam kecil seperti sumur. Ruang kecil di sisi barat dari kedua
galeri ini dipakai sebagai masjid. Jika dilihat dari keunikan struktur bangunan
ada kemungkinan tempat itu didesain sebagai tempat meditasi dan pengasingan diri.
Selain itu menurut mitos, terowongan tersebut juga berfungsi
sebagai jalan pertemuan antara Sultan dengan Penguasa Laut Selatan yaitu Nyai
Roro Kidul.
Di tempat tinggal raja, dulunya disediakan ruang membatik,
ruangan pementasan tari Bedoyo dan Srimpi, dengan atap terbuka sehingga Raja
dan kerabatnya bisa menikmati pemandangan kota dan sekitarnya.
Pemugaran Taman Sari terhitung sebagai satu dari 100 situs dunia yang
terancam hancur. Jika ini terjadi maka Keagungan budaya dan seni masa lampau,
tak akan bisa dipertahankan. Karena itu, berbagai sumber dana dikucurkan untuk
membenahi peninggalan kuno situs kompleks Taman Sari.
Atas jasa Jogja Heritage Society The Calooste Golbenkian
Foundation Portugal, yang memang bergerak di bidang bangunan peninggalan
Portugal di dunia, mengulurkan tangannya untuk membantu renovasi Taman Sari.
Kebetulan, Umbul Binangun yang saat ini sedang dilakukan renovasi besar-besaran
memang berarsitektur Portugal, dan dua lainnya direnovasi dari dana APBN dan
APBD DIY.
Sementara, dana dari APBN diusulkan untuk memugar gerbang
dan urung-urung (lorong) Pulo Panambang dan gerbang Taman Umbul Sari. Adapun dana
lain yang akan mengucur dari APBD DIY diproyeksikan untuk mendanai pembangunan
Sumur Gumuling dan Pulo Cemeti.
Menurut informasi yang diperoleh, Pemda DIY sudah memugar
komplek Taman Sari sejak tahun 1977, dan lewat dana APBN, Dinas Purbakala
melakukan pemeliharaan setiap harinya.
Persoalan pertama yang harus dipecahkan adalah memindahkan
2.500 rumah warga yang berjejal di kawasan Taman Sari. Warga yang sudah tinggal
puluhan tahun di tanah kraton tersebut tidak bisa begitu saja dipindahkan.
Ketua Unit Keraton Yogyakarta Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala, Eka Hadiyana menjelaskan, renovasi Taman Sari harus dilakukan secara
bertahap, karena Sultan HB X yang saat ini memerintah Ngayogyakarta, tidak
ingin perbaikan Taman Sari justru menghilangkan auranya.
Karena itu untuk memugar Taman Sari, bukan berarti
memolesnya. Tetapi menatanya kembali. Air di Umbul Binangun yang terlihat keruh
dan berlumut dikuras dan lapisan-lapisan hasil renovasi sebelumnya, dibuka
kembali. Eka menuturkan dengan dikomando langsung oleh orang Portugis, keaslian
arsitektur Portugis itu akan terkuak.
“Setelah dilakukan pengangkatan lapisan pertama di Umbul
Binangun, maka kita justru mengetahui bahwa di lapisan dasar, terdapat sumber
mata air,” ucapnya.
Menurutnya, meski debit air saat ini menjadi sangat kecil,
dulunya kolam ini sengaja diciptakan di atas sumber mata air.
Selain itu, tim renovasi juga menemukan lobang penghubung
antarkolam pemandian. “Yang dulunya hanya dua, ternyata saat digali, ada tiga
lobang yang menghubungkan kolam di utara dengan selatan,” jelasnya.
Menurutnya, menunggu hasil renovasi memang tidak bisa cepat.
Paling tidak akhir tahun 2004, Umbul Binangun akan kembali keasriannya.
“Renovasi bukan untuk memugar tetapi justru mengembalikan ke bentuk aslinya,”
paparnya. Inilah tentang pemugaran kompleks Taman sari. Selain itu banyak
wisata menarik lain di Jogja, kunjungi dan rasakan betapa indah, nyaman dan
eksotisnya kota ini.
Pembangunan Taman Sari
Pembangunan Taman Sari yang lekat dengan arsitektur Portugis
ini ditangkap oleh telinga penduduk asli Yogyakarta dan diterjemahkan ke dalam
berbagai versi cerita. Versi pertama menyebutkan, seorang bangsa asing
terdampar di Mancingan daerah di pantai selatan Yogyakarta. Masyarakat di
daerah tersebut menduga bahwa orang tersebut termasuk sebangsa jin atau
penghuni hutan.
Masyarakat menganggapnya demikian, karena orang tersebut
menggunakan bahasa yang tidak dimengerti. Akhirnya orang asing itu dihadapkan
kepada Sultan Hamengku Buwono II yang saat itu masih memerintah.
Sultan akhirnya mengambil orang asing tersebut sebagai
abdinya. Beberapa lama kemudian, orang itu bisa berbahasa Jawa dan mengaku
sebagai orang Portugis yang kemudian menjadi abdi yang mengepalai pembuatan
bangunan.
Sultan pun memerintahkannya untuk membuat benteng. Rupanya
Sultan merasa puas dengan hasil kerja orang Portugis tersebut, dan kemudian
menganugrahinya sebagai demang. Maka orang asing itu mendapat nama Demang
Portugis atau Demang Tegis. Dari sinilah, ia diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan
Taman Sari.
Akses dan Lokasi
Untuk menuju Istana Air Tamansari Yogyakarta petualang
memang perlu ekstra berkendara terutama bagi yang belum pernah sama sekali
berpetualang di Jogja. Istana Air Tamasari terletak di Jalan Taman sekitar 10
menit dari keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bagi yang melalui jalur barat
(Jakarta atau Kebumen) bisa menuju jalan lingkar barat (Ring Road Barat tapi
bukan menuju jalan ini, hanya melewati) setelah melalui Jalan Wates lalu lurus
menuju jalan RE Martadinata – Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan – Belok kiri menuju
Jalan Nyai Ahmad Dahlan – lurus Jalan Ngasem – belok kiri Jalan Taman. Kalau
dari Magelang atau Semarang, bisa melalui jalan Magelang kearah selatan
melewati Jalan Tentara Pelajar – Jalan Letnan Jendral Suprapto – belok kiri ke
arah jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan – Jalan Nyai Haji Ahmad Dahlan – Jalan Taman.
Jika dari arah timur atau Surakarta atau Klaten bisa melalui Prambanan ke arah
barat menuju pertigaan Janti ( naik ke jalan layang) belok kiri ke arah Ring
Road Timur – Jalan Kusumanegara – Jalan Sultan Agung – Jalan Nyai Ahmad Dahlan.
Atau dari jalan Janti (Jogja Expo Center) ke arah Jalan Ngeksigondo – Jalan
Perintis Kemerdekaan – Jalan mentri Supeno – Jalan Kolonel Sugiyono lurus ke
Jalan Sutoyo belok kanan ke jalan gading (ada gapura plengkung / setengah
lingkaran) melewati alun-alun selatan – Jalan Taman.
Harga Tiket
Harga tiket masuk ke Istana Air Tamansari cukup terjangkau
bagi para Petualang, untuk sekali masuk
dikenakan tiket Rp. 5.000,- belum termasuk parkir kendaraan melalui
pintu depan, kecuali Petualang masuk dari sumur gemuling hanya membayar parkir
saja namun harus berjalan sekitar 1kilometer. Kalau petualang memerlukan ‘guide
wisata’, di Tamasari banyak orang yang bekerja menjadi guide info tour,
biasanya mereka menunggu ada di depan pintu gerbang masuk Istana Air Tamasari.
Untuk biaya tambahan biasanya sekitar Rp. 25.000 ,- (guide tour biasanya bilang
sekedarnya tanpa menyebut besaran yang mereka minta).
Keunikan Taman Sari
Bangunannya yang mempunyai arsitektur yang indah sehingga
para wisatawan khususnya penggemar photography suka dengan spot seperti ini.
Bukan hanya bangunannya saja yang indah, disana terdapat kolam dengan air yang
jernih yang dapat memanjakan mata kita.
Opini dan Himbauan
Walaupun tak seindah dan sesejuk ketika jaman dulu Istana
ini dibuat, namun keunikan dan artistik dari bentuk bangunan Tamansari bisa
menyenangkan untuk dinikmati. Cuaca yang panas tidak menjadi persoalan, apalagi
ketika melihat kolam-kolam air yang menyegarkan dan menyejukan seolah memanggil
untuk segera berendam. Namun karena memang Istana Air Tamansari ini merupakan
bangunan cagar budaya, tidak lagi diperbolehkan untuk para Petualang nyegur dan
berendam. Istana Air Tamansari sangat pas untuk dijadikan alternatif tambahan
ketika ingin menyusuri Jogja untuk melihat keindahan dan keunikan Jawa
dijamannya hingga sekarang.
Kalau berpetualang hari ahad, tipsnya adalah datang pagi ke
Istana Air Tamasari lalu berjalan beberapa meter ke arah belakang menuju Sumur
Gumuling. Nah, sebelum jam menunjukan pukul 10.00 am silakan untuk segera
berkunjung ke Keraton Jogjakarta untuk melihat tari dan iringan musik gamelan
yang mengugah rasa, kalau boleh dinilai maka tari dan musik di keraton Jogja
bisa dinilai sepuluh plus (10+). Selain gerakan tarian yang sangat bagus, juga
tabuhan musik gamelan yang membuat pendengarnya untuk tetap terdiam menikmati.
Sumber:




Tidak ada komentar:
Posting Komentar