Selasa, 23 Agustus 2016

Part 5


Istana Air Taman Sari WaterCastle


Dua ratus tahun silam, Taman Sari yang berarti “taman yang indah” adalah sebuah tempat rekreasi dan kolam pemandian atau disebut pula pesanggrahan bagi Sultan Yogyakarta beserta seluruh kerabat istana.
Mengutip dari Babad Mangkubumi, Taman Sari ini dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi pada tahun 1683 (silsilah kerajaan Mataram) menurut penanggalan tahun Jawa atau tahun 1757 Masehi. Taman itu berdiri, tepat bersamaan dengan berdirinya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (sejarah kerajaan Mataram).

Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti (1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwono sekian lama terlibat dalam persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan yang dapat dipergunakan untuk menenteramkan hati, istirahat, dan berekreasi. Meskipun demikian, Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/ benteng untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Pesanggrahan Taman Sari juga dilengkapi dengan masjid, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.

Kompleks Taman Sari yang menempati lokasi seluas lebih dari 12 hektare berarsitektur dan relief perpaduan antara gaya arsitektur Hindu, Budha, Islam, Eropa, dan Cina itu selesai dibangun pada tahun 1765 Masehi. Untuk memberi makna pada setiap bangunan, Sri Sultan Hamengku Buwono I waktu itu memberi nama masing-masing bangunan yakni Keraton Pulo Kenanga, Masjid Taman Sari dan Pulo Penambung yang terapung di atas air, kolam pemandian dan gedung tempat tidur Sri Sultan dan Permaisuri.

Dalam Babad Memana dan serat rerenggan, pengadaan bahan bangunan pembangunan Tamansari dipimpin Rangga Prawiro Sentiko, Bupati Madiun. Sedang pengawas pelaksanaan pembangunan dilakukan Tumenggung Mangundipuro.

Dalam catatan sejarah, pada tahun 1812 beberapa bangunan hancur akibat serangan Inggris dan tahun 1867 terjadi gempa bumi yang juga menghancurkan beberapa bangunan di kompleks Taman Sari. Namun saat ini keagungan masa lampau itu sirna oleh menjamurnya rumah-rumah penduduk di sekitarnya, kompleks Taman Sari sesungguhnya menjadi tak jelas.

Bangunan itu, memiliki nama masing-masing sesuai dengan fungsi atau kegunaan, seperti Gapura Agung adalah pintu masuk menuju kompleks Taman Sari yang dilengkapi dengan empat gedung kembar yang berfungsi sebagai pos penjagaan dan disebut pecaosan serta ada tempat ganti pakaian abdi dalem yang sehabis menjalankan tugas penjagaan yang disebut paseban.

Kolam pemandian terletak di sebelah selatan masjid membujur dari utara ke selatan terdiri dari kolam pemandian yang disebut Umbul Kawitan, Umbul Pamuncar, Umbul Panguras.

Umbul Panguras adalah kolam pemandian khusus bagi Sri Sultan, sedangkan Umbul Pamuncar adalah kolam pemandian yang disediakan bagi permaisuri, dan Umbul Kawitan untuk putra-putrinya Raja.

Bangunan lain Gedung Cemeti, Taman Ledoksari merupakan tempat peraduan dan tempat yang sangat pribadi untuk raja. Dalam sebuah rumor, menyebutkan, Taman Sari memiliki terowongan yang ujungnya tembus ke pantai selatan yang disebut Parangkusuma dan berfungsi sebagai sarana persiapan penyelamatan jika terjadi peperangan.

Satu bangunan yang menyiratkan perpaduan arsitektur Portugis dan Jawa adalah Sumur Gumuling, Bentuknya menyerupai gedung teater melingkar dan tepat di tengah bangunan, terdapat telaga buatan (Segaran) terdapat puing bangunan besar dan luas.

Di salah satu sisinya terdapat tangga setapak yang gelap menjuju lorong bawah tanah Taman Sari yaitu Sumur Gumuling. Di ujung lorong terus menuju atrium (bilik) bundar yang terbuka bagian atasnya. Di tengah dasar atrium ada kolam kecil seperti sumur. Ruang kecil di sisi barat dari kedua galeri ini dipakai sebagai masjid. Jika dilihat dari keunikan struktur bangunan ada kemungkinan tempat itu didesain sebagai tempat meditasi dan pengasingan diri.

Selain itu menurut mitos, terowongan tersebut juga berfungsi sebagai jalan pertemuan antara Sultan dengan Penguasa Laut Selatan yaitu Nyai Roro Kidul.
Di tempat tinggal raja, dulunya disediakan ruang membatik, ruangan pementasan tari Bedoyo dan Srimpi, dengan atap terbuka sehingga Raja dan kerabatnya bisa menikmati pemandangan kota dan sekitarnya.
Pemugaran Taman Sari terhitung sebagai satu dari 100 situs dunia yang terancam hancur. Jika ini terjadi maka Keagungan budaya dan seni masa lampau, tak akan bisa dipertahankan. Karena itu, berbagai sumber dana dikucurkan untuk membenahi peninggalan kuno situs kompleks Taman Sari.

Atas jasa Jogja Heritage Society The Calooste Golbenkian Foundation Portugal, yang memang bergerak di bidang bangunan peninggalan Portugal di dunia, mengulurkan tangannya untuk membantu renovasi Taman Sari. Kebetulan, Umbul Binangun yang saat ini sedang dilakukan renovasi besar-besaran memang berarsitektur Portugal, dan dua lainnya direnovasi dari dana APBN dan APBD DIY.

Sementara, dana dari APBN diusulkan untuk memugar gerbang dan urung-urung (lorong) Pulo Panambang dan gerbang Taman Umbul Sari. Adapun dana lain yang akan mengucur dari APBD DIY diproyeksikan untuk mendanai pembangunan Sumur Gumuling dan Pulo Cemeti.

Menurut informasi yang diperoleh, Pemda DIY sudah memugar komplek Taman Sari sejak tahun 1977, dan lewat dana APBN, Dinas Purbakala melakukan pemeliharaan setiap harinya.

Persoalan pertama yang harus dipecahkan adalah memindahkan 2.500 rumah warga yang berjejal di kawasan Taman Sari. Warga yang sudah tinggal puluhan tahun di tanah kraton tersebut tidak bisa begitu saja dipindahkan.

Ketua Unit Keraton Yogyakarta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Eka Hadiyana menjelaskan, renovasi Taman Sari harus dilakukan secara bertahap, karena Sultan HB X yang saat ini memerintah Ngayogyakarta, tidak ingin perbaikan Taman Sari justru menghilangkan auranya.

Karena itu untuk memugar Taman Sari, bukan berarti memolesnya. Tetapi menatanya kembali. Air di Umbul Binangun yang terlihat keruh dan berlumut dikuras dan lapisan-lapisan hasil renovasi sebelumnya, dibuka kembali. Eka menuturkan dengan dikomando langsung oleh orang Portugis, keaslian arsitektur Portugis itu akan terkuak.

“Setelah dilakukan pengangkatan lapisan pertama di Umbul Binangun, maka kita justru mengetahui bahwa di lapisan dasar, terdapat sumber mata air,” ucapnya.

Menurutnya, meski debit air saat ini menjadi sangat kecil, dulunya kolam ini sengaja diciptakan di atas sumber mata air.

Selain itu, tim renovasi juga menemukan lobang penghubung antarkolam pemandian. “Yang dulunya hanya dua, ternyata saat digali, ada tiga lobang yang menghubungkan kolam di utara dengan selatan,” jelasnya.

Menurutnya, menunggu hasil renovasi memang tidak bisa cepat. Paling tidak akhir tahun 2004, Umbul Binangun akan kembali keasriannya. “Renovasi bukan untuk memugar tetapi justru mengembalikan ke bentuk aslinya,” paparnya. Inilah tentang pemugaran kompleks Taman sari. Selain itu banyak wisata menarik lain di Jogja, kunjungi dan rasakan betapa indah, nyaman dan eksotisnya kota ini.

Pembangunan Taman Sari

Pembangunan Taman Sari yang lekat dengan arsitektur Portugis ini ditangkap oleh telinga penduduk asli Yogyakarta dan diterjemahkan ke dalam berbagai versi cerita. Versi pertama menyebutkan, seorang bangsa asing terdampar di Mancingan daerah di pantai selatan Yogyakarta. Masyarakat di daerah tersebut menduga bahwa orang tersebut termasuk sebangsa jin atau penghuni hutan.

Masyarakat menganggapnya demikian, karena orang tersebut menggunakan bahasa yang tidak dimengerti. Akhirnya orang asing itu dihadapkan kepada Sultan Hamengku Buwono II yang saat itu masih memerintah.

Sultan akhirnya mengambil orang asing tersebut sebagai abdinya. Beberapa lama kemudian, orang itu bisa berbahasa Jawa dan mengaku sebagai orang Portugis yang kemudian menjadi abdi yang mengepalai pembuatan bangunan.

Sultan pun memerintahkannya untuk membuat benteng. Rupanya Sultan merasa puas dengan hasil kerja orang Portugis tersebut, dan kemudian menganugrahinya sebagai demang. Maka orang asing itu mendapat nama Demang Portugis atau Demang Tegis. Dari sinilah, ia diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan Taman Sari.



Akses dan Lokasi

Untuk menuju Istana Air Tamansari Yogyakarta petualang memang perlu ekstra berkendara terutama bagi yang belum pernah sama sekali berpetualang di Jogja. Istana Air Tamasari terletak di Jalan Taman sekitar 10 menit dari keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bagi yang melalui jalur barat (Jakarta atau Kebumen) bisa menuju jalan lingkar barat (Ring Road Barat tapi bukan menuju jalan ini, hanya melewati) setelah melalui Jalan Wates lalu lurus menuju jalan RE Martadinata – Jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan – Belok kiri menuju Jalan Nyai Ahmad Dahlan – lurus Jalan Ngasem – belok kiri Jalan Taman. Kalau dari Magelang atau Semarang, bisa melalui jalan Magelang kearah selatan melewati Jalan Tentara Pelajar – Jalan Letnan Jendral Suprapto – belok kiri ke arah jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan – Jalan Nyai Haji Ahmad Dahlan – Jalan Taman. Jika dari arah timur atau Surakarta atau Klaten bisa melalui Prambanan ke arah barat menuju pertigaan Janti ( naik ke jalan layang) belok kiri ke arah Ring Road Timur – Jalan Kusumanegara – Jalan Sultan Agung – Jalan Nyai Ahmad Dahlan. Atau dari jalan Janti (Jogja Expo Center) ke arah Jalan Ngeksigondo – Jalan Perintis Kemerdekaan – Jalan mentri Supeno – Jalan Kolonel Sugiyono lurus ke Jalan Sutoyo belok kanan ke jalan gading (ada gapura plengkung / setengah lingkaran) melewati alun-alun selatan – Jalan Taman.

Harga Tiket

Harga tiket masuk ke Istana Air Tamansari cukup terjangkau bagi para Petualang, untuk sekali masuk  dikenakan tiket Rp. 5.000,- belum termasuk parkir kendaraan melalui pintu depan, kecuali Petualang masuk dari sumur gemuling hanya membayar parkir saja namun harus berjalan sekitar 1kilometer. Kalau petualang memerlukan ‘guide wisata’, di Tamasari banyak orang yang bekerja menjadi guide info tour, biasanya mereka menunggu ada di depan pintu gerbang masuk Istana Air Tamasari. Untuk biaya tambahan biasanya sekitar Rp. 25.000 ,- (guide tour biasanya bilang sekedarnya tanpa menyebut besaran yang mereka minta).

Keunikan Taman Sari

Bangunannya yang mempunyai arsitektur yang indah sehingga para wisatawan khususnya penggemar photography suka dengan spot seperti ini. Bukan hanya bangunannya saja yang indah, disana terdapat kolam dengan air yang jernih yang dapat memanjakan mata kita.

Opini dan Himbauan

Walaupun tak seindah dan sesejuk ketika jaman dulu Istana ini dibuat, namun keunikan dan artistik dari bentuk bangunan Tamansari bisa menyenangkan untuk dinikmati. Cuaca yang panas tidak menjadi persoalan, apalagi ketika melihat kolam-kolam air yang menyegarkan dan menyejukan seolah memanggil untuk segera berendam. Namun karena memang Istana Air Tamansari ini merupakan bangunan cagar budaya, tidak lagi diperbolehkan untuk para Petualang nyegur dan berendam. Istana Air Tamansari sangat pas untuk dijadikan alternatif tambahan ketika ingin menyusuri Jogja untuk melihat keindahan dan keunikan Jawa dijamannya hingga sekarang.

Kalau berpetualang hari ahad, tipsnya adalah datang pagi ke Istana Air Tamasari lalu berjalan beberapa meter ke arah belakang menuju Sumur Gumuling. Nah, sebelum jam menunjukan pukul 10.00 am silakan untuk segera berkunjung ke Keraton Jogjakarta untuk melihat tari dan iringan musik gamelan yang mengugah rasa, kalau boleh dinilai maka tari dan musik di keraton Jogja bisa dinilai sepuluh plus (10+). Selain gerakan tarian yang sangat bagus, juga tabuhan musik gamelan yang membuat pendengarnya untuk tetap terdiam menikmati.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar