Rabu, 05 Oktober 2016

Museum Hamengkubuwono IX




Lokasi Museum Hamengkubuwono IX

Museum Hamengkubuwono IX terletak di dalam kompleks Kraton Yogyakarta yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X tanggal 18 November 1990. 

Berikut merupakan akses menuju Museum Hamengkubuwono IX melalui Google Maps.








Untuk menuju ke Museum Hamengkubuwono IX tidak sulit karena museum ini masih berada di kompleks Keraton Yogyakarta. Harga tiket masuk ke Museum Hamengkubuwono IX ini cukup murah, pengunjung hanya dipungut biaya sebesar Rp. 5000,00- untuk satu orang wisatawan domestik, sedangkan untuk wisatawan mancanegara akan dikenakan biaya sebesar Rp. 12.500,00-. Disamping itu pula, apabila pengunjung berminat untuk berfoto-foto di dalam Museum Hamengkubuwono IX diperbolehkan, asalkan membayar lagi uang "ijin foto" sebesar Rp. 1000,00- untuk satu orang pengunjung. Akses menuju ke Museum Hamengkubuwono IX ini cukup mudah. Anda dapat melihat pada gambar di atas berdasarkan dengan google maps. Untuk area parkir di sekitar Museum Hamengkubuwono IX ini cukup mudah dan murah, pengunjung hanya akan dikenakan biaya parkir jika menggunakan sepeda motor akan dikenakan biaya sebesar Rp. 3000,- dan bila menggunakan mobil akan dikenakan biaya sebesar Rp. 5000,00-. 

Sejarah Museum Hamengkubuwono IX

Museum dibuka untuk umum setiap hari (kecuali ada pelaksanaan acara khusus),mulai pukul 08.30 hingga14.00 WIB. Khusus hari Jumat, buka hingga pukul 13.00 WIB. Benda-benda /peralatan, foto-foto dan tanda jasa serta barang yang ditampilkan dalam museum ini khusus milik maupun yang diterima almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jam buka bersamaan dengan Kraton Yogyakarta.
Selain benda-benda budaya, pengunjung dapat menikmati pagelaran macapat, karawitan, wayang kulit, atau wayang orang di Bangsal Sri Manganti, sekitar pukul 10.00-12.00.Berisi benda koleksi peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, antara lain meja tulis, cindera mata, foto, beberapa penghargaan berupa medali, tanda jasa, dan surat keputusan presiden RI (penganugerahan pahlawan nasional untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX). Terdapat pula koleksi mobil-mobilan Sri Sultan Hamengkubuwono IX ketika masih kecil, peralatan memasak, bumbu dapur, baju, dan berbagai benda lainnya.
 Pada tahun 1955, perjanjian Giyanti membagi dua kerajaan Mataram menjadi Ksunanan Surakarta dibawah pemerintah Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Ngayogyakarta dibawah pemerintah Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Pesanggrahan Ayodya selanjutnya dibangun menjadi Kraton Kasultanan Yogyakarta .
Lebih dari 200 tahun yang lalu, tempat dimana Kraton Yogyakarta sekarang berada merupakan daerah rawa yang dikenal dengan nama Umbul Pachetokan, yang kemudian dibangun menjadi pesanggrahan yang bernama Ayodya. Kraton Yogyakarta menghadap ke arah utara, pada arah poros Utara selatan, antara gunung merapi dan laut selatan. Di dalam balairung kraton, dapat disaksikan adegan pisowanan (persidangan agung) dimana Sri Sultan duduk di singgasana dihadap para pemangku jabatan istana.

Regol Donopratomo yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton, dijaga oleh 2 (dua) patung dwarapala yang diberi nama Cingkarabala dan Balaupata, yang melambangkan kepribadian baik manusia, yang selalu menggunakan suara hatinya agar selalu berbuat baik dan melarang perbuatan yang jahat. Di dalam halaman inti kraton, dapat dilihat tempat tinggal Sri Sultan yang biasa digunakan untuk menerima tamu kehormatan dan menyelenggarakan pesta. Di tempat ini juga terdapat keputren atau tempat tinggal putri-putri Sultan yang belum menikah.

Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1256 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di pintu gerbang Kemagangan dan di pintu Gading Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa jawa : "Dwi naga rasa tunggal" Artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, tunggal=I, Dibaca dari arah belakang 1682. warna naga hijau, Hijau ialah symbol dari pengharapan.

Disebelah luar dari pintu gerbang itu, di atas tebing tembok kanan-kiri ada hiasan juga terdiri dari dua (2) ekor naga bersiap-siap untuk mempertahankan diri. Dalam bahasa Jawa: "Dwi naga rasa wani", artinya: Dwi=2, naga=8, rasa=6, wani=1 jadi 1682.

Tahunnya sama, tetapi dekorasinya tak sama. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan sudut yang dihiasinya. Warna naga merah. Merah ialah simbol keberanian. Di halaman Kemegangan ini dahulu diadakan ujian-ujian beladiri memakai tombak antar calon prajurit-prajurit kraton. Mestinya mereka pada waktu itu sedang marah dan berani.

Berikut ini merupakan foto penulis di Museum Hamengkubuwono IX.
 



Keunikan yang terdapat di Museum Hamengkubuwono IX

Keunikan tersebut berupa selain pengunjung dapat melihat benda-benda budaya dahulu, pengunjung dapat pula menikmati pagelaran macapat, karawitan, wayang kulit, ataupun wayang orang di Bangsal Sri Manganti. Pengunjung dapat merasakan aura kejawen  jika sedang berada di dalam Museum ini karena dapat mendengarkan dentuman gamelan-gamelan jawa yang khas tersebut. Pengunjung juga dapat menikmati berbagai bangunan yang unik, bangunan yang boleh/ tidak untuk di duduki, dapat pula menikmati suasana yang hangat akan suasana jawa jika berada di Museum Hamengkubuwono IX ini. Selain dapat menikmati, terdapat pula spot foto yang bagus untuk dijadikan tempat untuk berfoto. Pengunjung dapat pula melihat benda-benda koleksi Sri Sultan Hamengkubuwono IX seperti piring, sendok, baju, dan lain-lainnya. Tidak hanya dapat berfoto dengan suasana keraton, tetapi pengunjung juga dapat belajar dan mengetahui tentang peninggalan-peninggalan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang unik ini.

Opini dan Himbauan

Museum ini termasuk museum yang ramai akan pengunjung. Wisatawan yang berkunjung biasanya adalah anak-anak SD, SMP yang sedang melaksanakan rangkaian study-tour nya. Himbauan jika ingin berkunjung ke Museum ini bila ingin tidak terasa ramai sebaiknya Anda dapat datang lebih pagi atau datang menjelang ditutupnya museum ini. Museum ini bagus untuk pengenalan kepada masyarakat akan sejarah tentang peninggalan-peninggalan apa saja yang ditinggalkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Museum ini sangat reccomended untuk Anda yang suka dengan wisata sejarah, budaya, atau anak-anak agar mengenal dan mengetahui tentang sejarah Museum Hamengkubuwono IX. Saran saya agar diberikan area parkir yang luas karena mengingat pengunjung yang berkunjung ke museum ini sangat ramai, agar pengunjung tidak kebingungan mengenai penempatan kendaraan mereka. Area parkir yang memadai sangat penting di dalam sebuah industri pariwisata karena itu akan membuat pengunjung merasa aman dalam menempatkan kendaraan pribadinya. 

Sumber:
http://asosiasimuseumindonesia.org/artikel.html
 https://gudeg.net/direktori/61/kraton-yogyakarta.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar